Minggu, 20 Mei 2018

Cernak

Hari Pertama Puasa Bagi Fajar


      Badan Rafli terasa segar dibanding tadi siang. Hari ini puasa pertama Ramadan. Ia tidur sepulang sekolah hingga sore baru bangun. Setelah mandi sore dia pergi ke dapur. Ibu memintanya membantu memasak. Maklum ibu tidak mempunyai pembantu. Ketiga anak ibu lelaki. Kakak Rafli, Kak Fauzi, sibuk mengurus buka puasa bersama di sekolah. Sedangkan adiknya, Fajar, masih terlalu kecil. Dia belum dapat membantu ibu memasak.
       “Bu, mengapa ikan guraminya tinggal tiga? Bukankah tadi Bapak dapat empat ekor?” tanya Rafli setelah mengambil ikan-ikan dari kepis. Kepis adalah tempat menyimpan ikan setelah dipancing. Kepis terbuat dari bambu yang dianyam. Tadi pagi bapak memancing dari empang dan mendapat 4 ekor gurami. Lalu Rafli memberikan ikan gurami itu kepada ibu untuk diambil sisiknya.
       “Ibu lupa kalau hari ini sudah puasa Ramadan. Tadi ikan gurami yang ukuran kecil Ibu goreng untuk makan siang Fajar. Coba kamu tengok, apakah di meja makan masih ada sepiring nasi dan lauk ikan gurami yang ibu sediakan!” pinta ibu.
       Rafli langsung pergi ke meja makan. Dibukanya tudung saji. Benar dugaannya, di meja makan tidak ada sepiring nasi dan lauk ikan gurami. Rafli mencari Fajar. Tapi adiknya itu belum bangun dari tidur. Dia terlihat nyenyak.
       “Nasi dan ikan guraminya tidak ada, Bu, paling sudah dia makan dengan sembunyi-sembunyi. Ibu sih, sudah tahu puasa malah diberi makan,” tukas Rafli setelah sampai di dapur.
       “Iya, Ibu lupa,” jawab ibu dengan menyesal.
       “Kalau begitu nanti dia tidak boleh buka puasa bersama. Padahal tadi pagi ikut sahur. Nggak tahunya siang hari malah makan. Berarti dia bohong, mengaku puasa tapi siang hari makan,” kata Rafli jengkel.
       “Mungkin dia belum kuat puasa. Maklumlah, ini kan puasa pertamanya,” jelas ibu dengan sabar. “Sudah, sekarang segera diracik sayur lodeh itu. Ibu akan mengolah ikan gurami,” pinta ibu sambil menguliti sisik ikan gurami. Disamping itu ibu sambil menggoreng tahu dan tempe. Sore itu ibu memasak sayur lodeh dengan lauk ikan gurami, tempe, dan tahu goreng. Ibu juga akan membuat kolak pisang setup.
       “Nanti Ibu ingatkan lagi supaya puasa. Bukankah dia sudah janji mau puasa?”
       “Iya, nanti Ibu ingatkan lagi. Ayo cepat meraciknya. Nanti airnya keburu mendidih,” pinta ibu sambil memberi bumbu pada ikan gurami.
       “Baik, Bu. Ini sudah selesai tinggal dicuci.” Rafli pun segera mencuci sayur lodeh. Tidak lama kemudian dimasukkannya sayur-sayuran itu dalam air mendidih yang sudah diberi bumbu. Setelah itu diberi santan hingga matang.
      Rafli senang ketika Fajar berjanji akan berpuasa Ramadan. Sebelumnya Fajar tidak pernah puasa. Beberapa hari menjelang puasa Ramadan, ibu meminta Fajar supaya berpuasa. Mulanya Fajar menolak karena tidak tahan lapar dan haus. Begitu ibu menjanjikan hadiah, Fajar langsung bersemangat akan berpuasa.
      Jika kuat sebulan ibu memberi hadiah uang seratus ribu rupiah. Jika fajar tidak berpuasa sampai tiga hari, ibu memberi tujuh puluh lima ribu rupiah. Bila sampai satu minggu ibu memberi lima puluh ribu rupiah. Jika  kurang dari itu ibu hanya memberi sepuluh ribu rupiah.
      Setelah beberapa lama, azan Magrib berkumandang. Tanda waktu buka puasa tiba. Semua hidangan telah tersedia di meja makan. Rafli, ibu, dan bapak sudah bersiap di meja makan.  Sedangkan Kak Fauzi buka puasa bersama bapak dan ibu guru serta teman-temannya di sekolah. Pertama kali mereka minum teh manis hangat
      “Horeeee... buka puasa telah tiba,” sorak Fajar sambil menghampiri meja makan. Dia baru saja duduk-duduk di teras menunggu buka puasa. Kemudian dia menuangkan teh manis hangat dari dalam teko.
       “Kamu kan tidak puasa, Jar. Jadi kamu juga tidak buka puasa, tapi makan malam,” tukas Rafli.
       “Siapa bilang Fajar tidak berbuasa?” tanya Fajar agak marah.
       “Buktinya nasi dengan lauk ikan gurami pemberian Ibu tadi siang, kamu makan. Itu berarti kamu tidak puasa,” jelas Fajar.
       Fajar tidak menjawab, tapi buru-buru pergi ke belakang. Tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa sepiring nasi dengan lauk gurami goreng.
       “Ini nasi pemberian Ibu. Fajar simpan di lemari belakang, supaya tidak kepingin.”
       Lemari belakang tempat ibu menyimpan perkakas dapur. Ibu jarang membukanya kecuali punya hajat.
       “O...,” Rafli manggut-manggut.
       “Puasa itu tidak hanya menahan haus dan lapar, Kak, tapi juga menjaga akhlak mulia. Diantaranya tidak berbohong atau berlaku jujur.”
       Rafli bangga melihat adik semata wayangnya bisa menjaga kejujuran. Hari pertama puasa mereka lalui dengan penuh suka cita. 
@@@
Cernak ini pernah dimuat di harian Lampung Post, Minggu, 20 Mei 2018.




Minggu, 15 April 2018

Cernak

Ridho Anak Baru


         “Ridho mana?” tanya Fiky, sang ketua kelas, kepada teman-temannya yang masih berada di kelas. Beberapa waktu sebelum istirahat, Pak Alex menyerahkan surat pemberitahuan jadwal UTS (Ujian Tengah Semester) kepada Fiky agar dibagikan kepada teman-temannya. Pak Alex adalah wali kelas mereka. Begitu bel istirahat berbunyi, Fiky langsung membagikan. Tapi sebagian anak sudah keluar. Mungkin mereka segera ke kantin.
            “Ridho sudah keluar,” jawab Andre saat dicari Ridho tidak ada di kelas.
            “Itu Ridho sedang duduk di taman sambil membaca buku,” tukas Siswanto yang kebetulan akan ke kantin.Sebetulnya Siswanto teman sebangku Ridho. Tapi dia enggan berteman dengan Ridho.
            “Tolong panggilkan dia agar mengambil surat ini!” pinta Fiky. Fiky masih membawa beberapa surat pemberitahuan yang belum dibagikan kepada teman-temannya.
            “Malas, ah! Panggil saja sendiri!” jawab Siswanto.
            “Kalian kan teman sebangku,” ungkap Fiky heran.
            “Kamu tahu sendiri, Ridho budeg alias tuli. Kalau memanggil dia mesti teriak-teriak. Aku lapar mau ke kantin!” Kemudian Siswanto buru-buru pergi ke kantin. Begitu pun teman-teman lainnya.
            Fiky geleng-geleng kepala. Akhirnya dia memberikan sendiri surat berbentuk selembar kertas yang dilipat empat.
            “Ridho, “ panggil Fiky. Tapi Ridho tetap membaca buku sambil makan makanan yang dibawa dari rumah. Padahal jaraknya tidak jauh. Barulah setelah disentuh bahunya, Ridho menoleh.
            “Eh, Fiky.” Ridho tahu karena tidak disuka teman-temannya, ia suka menyendiri.
            “Ini surat pemberitahuan untuk orangtua,” setelah menyerahkan surat itu, Fiky buru-buru ke kantin.Disamping lapar, Fiky juga harus memberikan surat itu kepada teman-teman lain yang belum memeroleh.
            Begitulah Ridho, teman-temannya tidak suka bergaul dengannya. Karena Ridho agak tuli. Setiap kali berbicara dengannya harus keras.
            Sebagian teman-temannya menyangka Ridho tuli karena rambutnya yang gondrong. Sebagian rambut bagian samping menutupi telinganya.Mungkin karena itulah ia tidak begitu mendengar bila diajak berbicara. Beberapa hari lalu Pak Alex sudah mengingatkan supaya yang memiliki rambut gondrong dipotong. Disamping terlihat rapi, tidak mengganggu pendengaran.
@@@
            Ujian Tengah Semester sudah selesai. Pada hari Senin diadakan pemeriksaan kesehatan dari puskesmas. Sebagian murid sedih. Bahkan ada yang menangis. Sebetulnya pemeriksaan kesehatan dari puskesmas dilakukan tiga bulan sekali. Mereka diperiksa dari kesehatan rambut, telinga, gigi, mata, hingga bagian dalam, seperti amandel.
Biasanya sebelum pemeriksaan, beberapa hari sebelumnya setiap murid diberi surat pemberitahuan.Ternyata sebagian murid justru tidak masuk pada hari pemeriksaan. Mereka takut disuntik. Padahal tidak selalu dalam pemeriksaan ada suntikan. Oleh sebab itu pemeriksaan dilakukan secara tiba-tiba. Dengan demikian tidak ada yang membolos.
            “Sis, kepalaku pusing. Aku mau pulang saja,” ungkap Ridho tiba-tiba mengatakan kepalanya pusing.
            “Wah, kebetulan bukankah sedang ada pemeriksaan kesehatan dari puskesmas? Nanti kalau petugasnya sudah masuk dikelas kita, minta saja obat,” Siswanto memberi saran.
            “Tapi aku sudah tidak tahan. Aku minta izin pulang sama Pak Alex,”  jawab Ridho.
            Saat itu juga Ridho menemui Pak Alex yang sedang duduk di kursi guru. Ketika akan izin pulang, beliau melarang. Beliau juga menyarankan supaya nanti minta obat anti pusing dari petugas puskesmas. Tapi Ridho bersikeras ingin pulang. Syukurlah tidak lama setelah itu, dua petugas puskesmas masuk di kelas mereka.
            Karena mengeluh kepalanya pusing, Ridho diperiksa terlebih dahulu. Ketika diberi obat, Ridho malah menolak.
            “Saya tidak mau minum obat. Karena sebetulnya saya tidak pusing. Saya... saya... cuma takut disuntik... hu... hu... hu...,” ungkapnya sambil menangis.
            “Kami tidak akan menyuntik. Cuma memeriksa bagian organ-organ tubuh,” jelas petugas puskesmas. Petugas itu memeriksa rambut, mata, hidung. Ketika memerikasa telinga, petugas itu terheran.
            “Wah, banyak kotorannya.” Sampai beberapa lama petugas itu hanya membersihkan kotoran yang berada di dalam telinga Ridho. Petugas itu kaget.
            Barulah setelah itu Ridho mengaku tidak pernah memeriksakan kesehatannya. Setiap kali ada pemeriksaan dia tidak masuk sekolah. Alasannya karena takut disuntik.
            Semenjak itu Ridho tidak lagi tuli atau budeg. Teman-temannya senang bergaul dengannya. Apalagi dia juga memotong rambutnya. Sehingga seperti anak baru.
            “Wah, ada anak baru nih!” ledek Siswanto. Semua isi kelas yang pagi itu sudah datang ikut meledek. Mereka mengatakan Ridho anak baru.
            Semenjak itu bila ada pemeriksaan kesehatan, Ridho tidak takut. Bahkan dia senang. Sebab semua organ tubuhnya akan diperiksa supaya sehat. Bukankah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat? Kini ia tidak minder lagi bergaul dengan teman-temannya.Begitu pun teman-temannya, senang bergaul dengannya.
@@@
Cerita ini pernah dimuat di surat kabar Fajar Makasar, Minggu, 15 April 2018     

Sabtu, 10 Maret 2018

Kisah Berhikmah



       Ihsan rajin beribadah, terutama menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Dia lebih senang pergi ke masjid. Padahal dia harus berjalan melewati beberapa kampung untuk sampai ke sana. Semua dilakukan demi kewajiban dan kecintaannya kepada Allah. Anak laki-laki lebih utama shalat di masjid dibanding di rumah.
       “Biarlah di dunia kita hidup sederhana, asalkan di akhirat kelak bahagia. Yang terpenting jangan lupa menjalani kewajiban, terutama shalat lima waktu. Disamping itu ringan tangan dalam beramal soleh. Walaupun hanya berupa tenaga. Untuk bekal di akhirat nanti,” pesan emak untuk kesekian kali. Biasanya emak menghibur sekaligus memberi nasihat saat makan malam bersama.
       Di rumah berdinding kayu, Ihsan mendengarkan sembari makan nasi dengan lauk tempe goreng ditambah sambal terasi. Sedang Ahmad, adiknya, sibuk menonton film animasi kesayangannya. Ahmad masih duduk di TK. Sebagai anak sulung Ihsan ingin cepat membantu emak. Tapi tidak mungkin karena dia masih kelas dua SD.
       Emak sangat sibuk. Pagi buta emak sudah mencuci lalu sore menyetrika  pakaian milik orang lain. Ihsan dan Ahmad masih tidur. Sebelum pergi emak tidak lupa menyediakan sarapan dan makan siang. Menjelang senja emak baru pulang. Emak bekerja di rumah tetangga. Beliau menghidupi kedua putranya karena ayah Ihsan meninggal beberapa tahun lalu. 
       “Ihsan, baju kokomu sobek di samping,” celetuk Hanif suatu ketika, tetangganya yang juga baru saja selesai melakukan shalat jumat. Mereka suka membantu takmir masjid mengumpulkan beberapa kotak amal yang beredar di antara jamaah. Kotak amal itu keempat ujungnya beroda. Kemudian kotak-kotak itu didorong ke kantor untuk dibuka kemudian dihitung uangnya. Selain Hanif dan Ihsan, ada pula Deny, teman seangkatan mereka.
       “Ah iya,” kata Ihsan dengan memegangi bawah ketiak yang sobek sambil memendam rasa malu. “Sebetulnya ini bukan sobek, tapi jahitannya lepas. Emak sudah pernah menjahitnya tapi lepas lagi,” Ihsan memberi alasan.
       “Jahitannya lepas atau sobek tetap saja lubang dan kelihatan sebagian badanmu,” Deny menambahi bernada mengejek.
       Semua kotak amal sudah terkumpul di kantor. Saatnya Abah Nasikhin bersama takmir lain membuka lalu menghitung semua uang. Anak-anak diizinkan pulang.
       Ihsan pulang dengan bersepeda. Ia ingin marah, tapi tidak mungkin. Emak bisa menghidupi sekaligus menyekolahkan sudah untung. Kelak setelah besar dia akan membantunya dengan bekerja. Biarlah di dunia kita sederhana asal di akhirat kelak hidup bahagia. Pesan emak yang selalu menyemangati hidupnya.
@@@
       Seperti biasa, setiap Jumat anak-anak yang gemar membantu masjid mengumpulkan kotak amal untuk dibawa ke kantor. Sebelum ke kantor Ihsan terlihat mencari sesuatu. Ada 3 kotak amal yang diurusnya dan masih berada di serambi masjid.
       “Kamu sedang mencari apa, San?” tanya Hanif sambil mendorong 3 kotak amal yang akan diserahkan ke kantor.
       “Aku mencari lidi,” jawab Ihsan sembari ke halaman mencari lidi.
       Deny yang mendengar pembicaraan mereka, meletakkan 2 kotak amal lalu menghampiri Hanif. 
       “Ihsan mencari lidi. Dia pegang 3 kotak amal, apa pendapatmu ?” tanya Hanif membisiki Deny.
       “Yah, apalagi kalau bukan mencukil uang yang ada dalam lubang kotak amal,” jawab Deny tepat, diiyakan Hanif.
       “Mungkin dia ingin membeli baju koko tapi tidak punya uang.”
       “Iya, tempo hari baju kokonya sobek. Tapi kalau kita yang menegur, sungkan.”
       “Kita lapor saja sama Abah Nasikhin sebagai ketua takmir.”
       Abah Nasikhin kaget mendengar laporan Hanif dan Deny. Selama ini Ihsan dikenal sebagai anak yang rajin ke masjid dan suka membantu. Dengan penuh hati-hati, Abah Nasikhin minta cepat-cepat diantar ke tempat Ihsan berada bersama kotak amal yang belum diserahkan ke kantor masjid. Mereka mengamati dari jauh.
       Meski kesulitan mencari, akhirnya Ihsan menemukan sebuah lidi. Lidi itu kemudian dipangkas dengan jari-jari tangannya sehingga menjadi pendek. Namun Ihsan tidak mencukil tetapi justru mendorong uang itu dengan lidi agar masuk ke dalam. Tujuannya supaya kalau dilihat orang jahat tidak diambil uangnya. Kemudian Ihsan mendorong ketiga kotak amal itu ke kantor masjid.
       Hanif dan Deny kecele. Lalu kata Abah Nasikhin kepada keduanya.
       “Jangan suka su`dhon. Jangan menilai orang hanya dari kulit luarnya. Bisa jadi orang yang berpenampilan sederhana, justru di mata Allah dia lebih mulia dibanding yang lain. Ayo kumpulkan semua kotak amal yang kalian bawa ke kantor masjid!” pinta Abah Nasikhin sambil cepat-cepat ke kantor masjid untuk menghitung uang.
       Pulang dari masjid, Hanif dan Deny mendapat pelajaran sangat berharga. Mereka berjanji nanti sore akan ke rumah Ihsan untuk meminta maaf.
@@@
                                                                                        
 Kisah ini telah dimuat di majalah anak adzkia, Maret 2018

Minggu, 04 Maret 2018

Cerma

                                                                                       


Semilir angin Morosari menyibak rambut panjangmu penuh manja. Seakan menyambutmu bersama Ruwi menyongsong indahnya sunset di ufuk sana.
"Kamu haus kan, Dik, aku cari minuman dan makanan dulu, gimana? Nggak pa pa kan kamu nunggu di sini sendiri?" tawar Ruwi sementara kau duduk di atas sepeda motor.
            "Aku sih biasa-biasa aja, Wi, kan  kamu yang nyetir," tukasmu penuh pengertian.
           “Nunggu sunset sambil ngemil, biar seru!”
Tanpa menunggu jawaban, Ruwi langsung meninggalkanmu. Ruwi begitu baik hati, memboncengkanmu dengan sepeda motor dalam jarak  jauh. Entah mengapa tiba-tiba tempo hari kaurindu menikmati sunset. Ruwi yang selalu ingin membahagiakanmu pun dengan senang hati mengantar. Yang terpenting apa yang membuatmu bahagia, begitu semboyannya.
Kau menghela napas panjang. Hingga beberapa lama, sahabatmu itu belum kembali. Resah mulai menggelayuti. Sebetulnya kau tak ingin situasi seperti ini terjadi. Sendirian, berada di tempat kau menghabiskan masa indahmu dulu. Kau kerjap-kerjapkan kedua matamu. Berharap semua bayangan hilang. Namun di kejauhan sana, di lautan lepas, bayangan Rey mengelebat.
Rey.... ah, kendati kenangan pahit terakhir bersamanya, begitu banyak kenangan manis terajut. Saat-saat seperti inilah kau dan cowokmu itu gemar menikmati proses tenggelamnya sang surya di peraduan. Oh Tuhan, kau jadi merasa mengkhianati Ruwi, yang telah berjanji untuk melupakannya.
"Tumben angin Morosari terasa berbeda dari biasanya. Seperti ingin melepasi seluruh tulang,"ungkap Rey tiba-tiba begitu angin semilir berhembus, justru kau merasakan sejuk melepasi peluh. Seolah Rey merasa kepergiannya sore itu mengandug firasat lain.
"Kamu ada-ada aja. Kalau kamu nggak punya tulang, mati dong," ungkapmu tanpa beban mengatakan kematian walau teruntuk orang terkasih.
"Suatu saat pasti kita akan berpisah," ungkap Rey dalam pandangan ke laut lepas. Kau yang juga duduk di atas motor besarnya semakin resah dengan omongannya yang saat itu kauanggap aneh. Namun dalam pengertian lain.
"Berpisah ya berpisah. Bilang aja kamu ingin kita pisah. Tidak perlu nyinggung soal kematian," kau tersulut oleh gosip yang beredar hari-hari terakhir tentang kedekatanya dengan seorang cewek, adik kelas, sama-sama peserta ekstra Pramuka.
"Kamu kenapa sih sensi. Bukankah aku bicara soal kebenaran?"
"O jadi emang benar omongan teman-teman. Mereka tidak ngegosip." Suaramu meninggi membuat Rey semakin tersulut.
"Maksudmu apa, ngajak aku kemari? Hanya untuk bertengkar?”
"Justru kamu yang mengajak bertengkar,"
           Kalian berbantah-bantahan sampai akhirnya karena tidak menemukan jalan temu kau memilih pulang. Dua hari setelah itu, Rey terlibat tawur antarpelajar dan tertusuk dadanya. Saat itu juga nyawanya tak tertolong.
          Beruntung tidak lama setelah itu Ruwi, temanmu SD, hadir. Dia pindah lagi dari kampung halamannya Bandung dan kembali sekolah di sini. 
"Aku ikut berduka, Dik," ungkap Ruwi pada kedatangannya yang pertama. Kau tersanjung, teman dari jauh, lama tak bertemu, tapi perhatiannya tak kurang dari yang dekat.
          Tapi begitulah kau, yang tak dapat begitu saja melupakan orang terkasih yang jelas tak kembali. Seakan kau tak merelakan takdir Tuhan. Mungkin jika Rey pergi tidak atas dasar kematian, kau bisa menerima, apalagi bila pergi karena jatuh ke lain hati.
         “Sudahlah, Dika, dia sudah berada di alam lain,” hibur Ruwi bernada jengkel suatu ketika dalam pergaulan yang sudah akrab. Susah payah mengajakmu ke taman lalu membelikanmu kue maryam kesukaanmu, ujung-ujungnya tetap saja kau melamun.
        “Kamu sudah banyak menghiburku, Ruwi. Tapi jujur, aku memang belum bisa melupakannya. Jadi kalau kamu merasa terganggu dengan sikapku, tolong deh, menjauhlah dariku. Biarkan aku sendiri,” jawabmu bernada marah yang tak terbendung. Bahkan kau langsung berdiri, hendak beranjak. Tapi lagi-lagi sahabatmu yang baik hati itu mengalah dan membiarkanmu dalam kehendak.
        “Maaf, Dik, maaf, “ ranyunya ketakutan membuatmu tersadar lalu kau merasa kasihan dan kembali terduduk.
        Kau semakin tercampak. Kesedihan selalu berujung pada memorimu bersama Rey. Maka bisa dipastikan, tangismu tumpah. Ruwi pun menjatuhkan kepalamu dalam bahunya. Dibelai rambutmu yang lurus. Bau harum sampo semerbak seiring tertiupnya angin.
        Morosari selalu menjadi tujuanmu bersama Rey. Rey yang anak orang kaya tapi tak pernah melupakan dari mana dia berasal. Itu pula yang membuat kalian rajin mengunjungi tempat yang pernah menjadi kampung halaman mamanya masa kecil. Sebagaimana Rey, kau pun terlarut oleh keprihatinan yang mendalam. Hutan mangrov yang tersisa di tengah lautan itu sebagai saksi bahwa pernah ada perkampungan penduduk. Di sana pula mamanya tinggal bersama keluarganya, juga para tetangganya satu desa. Tapi air laut terus mengabrasi. Hingga akhirnya menutup daerah satu desa dan harus berpindah. Kendati satu dua keluarga masih bertahan. Dengan berdalih ingin menjaga makam alim ulama beserta keluarganya.
Kini makam itu ramai dikunjungi. Dibangunlah jalan setapak menuju ke sana. Tidak saja yang ingin berziarah, wisatawan umum juga tertarik mengunjungi karena ada makan di tengah lautan. Maka menjadi objek wisata yang unik. Dan penduduk yang masih bertahan mendapatkan keberkahan dengan menjajakan makanan dan minuman  bagi wisatawan. Dan kau pun ikut berbangga hati atas kisah asal-usul kekasihmu itu. Tak pernah mengeluh walau menempuh perjalanan jauh dari Semarang ke Morosari, Demak. Kini semua tinggal kenangan. Tak ada lagi motor besar membawamu kemari.
       “Kita pulang, yuk!” ajak Ruwi begitu tangismu tak lagi terdengar.
       Tanpa sepatah kata kau beranjak lalu jalan beriringan. Ruwi melindungimu dalam rangkulan yang hangat. Tubuh Ruwi yang lebih besar serta tinggi membuatmu teringat Rey, begitulah dulu pacarmu itu selalu melindungimu, jiwa dan raga. Dan kau merasa beruntung betapa Tuhan telah mengirim Ruwi pada saat kau berada pada titik nadir. Kau pun tak menyia-nyiakan pulang dalam dekapan roda dua di belakang boncengan.
        “Dik, maaf, kamu nunggu lama. Pengunjungnya membeludak. Aku nunggu bakwan matang dari penggorengan,” Ruwi datang dengan napas ngos-ngosan. Kedua tangannya memegang minuman kaleng dan satu kantung plastik berisi bakwan yang masih panas.
       “Ah, nggak pa pa.”
       Matahari mulai masuk ke peraduan. Segera kausiapkan ponselmu. Ini sunset kedua setelah bersama Rey.
       “Rey paling suka sunset. Kami sering menghabiskan waktu berdua demi berlama-lama menunggu saat indah ini,” katamu tanpa sadar terus mengambil gambar dengan sibuk menyebut nama Rey.
       “Dik, sampai kapan kamu berlaut dalam masa lalumu?”
       “Entahlah,” jawabmu nyaris tak terdengar. “Sampai kini aku tak bisa melupakan Rey.”
       “Bukankah sudah ada aku di sampingmu.”
       “Tapi sahabat dengan pacar kan beda, Wi.”
       “Dik, percayalah aku bisa menggantikan Rey.”
       “Ruwi... apa maksudmu?” Kau hentikan segera kegiataan cekrak-cekrek.“Kita kan sama-sama cewek, Wi,” ungkapmu menangkap sesuatu lain.
       “Zaman maju seperti ini kamu masih membedakan cinta cowok dan cewek?”
       “Jadi.. jadi.. kamu selama ini...tidaaaaak..... toloooooooong...” sontak kau bergidik dan lari menembus barisan wisatawan.
Sunset kedua telah menjebakmu dalam kenyataan lain.
@@@

 Cerma ini telah dimuat di harian Analisa, Minggu, 4 Maret 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Cernak

Polan dan Pongpongan Pak Pohan


          “Ayo, laba-laba, kemari! Ayo... ayo... kok diam saja...”
       Polan sedang menyuruh pongpongan keluar dari kolong tempat tidurnya. Ia memanggilnya laba-laba karena cangkangnya dilukis gambar laba-laba. Begitulah Pak Pohan, nama penjual pongpongan itu untuk menarik hati pembeli. Setiap cangkang pongpongan yang dijual dicat aneka gambar.
     Tapi pongpongan itu tidak mau berjalan dan tetap berada di pojok dinding. Akhirnya Polan mengambil sapu ijuk untuk meraih pongpongan. Sesaat kemudian pongpongan sudah berada di hadapannya.
      “Laba-laba, kenapa sih kamu sembunyi terus. Ayo, jalan!” Pinta Polan.“Hah... hah... hah...” Karena tidak mau mengeluarkan kakinya dari cangkang, Polan meniup-niup.
      Sesaat kemudian pongpongan mengeluarkan kaki-kakinya. Polan meletakkan pongpongan di lantai. Maka berjalanlah pongpongan. Polan pun bersorak-sorai melihat pongpongan berjalan.
       Setelah beberapa lama....
       “Laba-laba, kenapa berhenti? Hah... hah... hah...” Polan meniup-niup kaki pongpongan. Lalu pongpongan mengeluarkan kaki-kakinya dan berjalan lagi.
       Polan senang. Pongpongan berjalan. Sesaat kemudian ketika pongpongan berhenti, lagi-lagi ia meniup-niup. Begitu seterusnya. Tapi sayang, ketika berhenti lagi lalu Polan meniup-niup, pongpongan tidak mau mengeluarkan kaki-kakinya. Polan jengkel, dan....
       Praaakkkkkkk.... Polan membanting pongpongan. Cangkang pongpongan pecah menjadi berkeping-keping. Pongpongan segera berlari tanpa cangkang. Tentu saja sudah tidak menarik karena tanpa cangkang. Apalagi cangkang itu dilukis menyerupai laba-laba. Maka Polan membiarkan pongpongan pergi dan keluar dari kamarnya.
       Begitulah Polan kalau pongpongan tidak mau berjalan maka ia membanting. Dengan hati kesal ia menyapu kepingan cangkang.
@@@
       Keesokan hari sepulang sekolah Polan mendatangi jualan Pak Pohan. Pak Pohan menjual pongpongan yang diletakkan di ember. Anak-anak membeli sesuai gambar yang mereka suka.
      “Pak Pohan, beli pongpongan,” kata Polan penuh semangat. Kemudian ia memilih pongpongan dengan cangkang bergambar kepala kucing.
       “Beli lagi, Lan,” ungkap Pak Pohan. Tentu saja Pak Pohan senang karena dagangannya laku.
       “Iya, Pak.”
       “Lan, kamu beli lagi. Jadi yang laba-laba juga kamu banting? Tempo hari gambar beruang, sebelumnya gambar serigala, semua kamu banting. Payah kamu, Lan!” umpat Sani tahu-tahu sudah berada di samping Polan. Kemudian Sani memilah-milah gambar yang ada pada cangkang pongpongan.
        “Kamu saja beli lagi,” ledek Polan.
       “Aku beli untuk adikku. Nih gambar boneka karena adikku perempuan,” jelas Sani sambil menunjukkan cangkang pongpongan dengan gambar wajah boneka berwarna pink.
       “Jadi kamu beli lagi karena pongpongan yang lama kamu banting, Lan?” tanya Pak Pohan heran sambil melayani pembeli lain.
       “I..iya, Pak. Habis jalan sebentar berhenti, jalan lagi berhenti lagi,” jawab Polan sambil cengar-cengir.
       “Kirain buat dipelihara, Lan. Kemudian kamu kasih makan dengan buah-buahan rasa manis. Pongpongan itu suka buah-buahan rasa manis. Kasihan kalau kamu banting. Mereka kan makhluk hidup seperti kita. Coba kalau kita jalan tarus, kan lelah.” jelas Pak Pohan panjang lebar.
       Tapi Polan tidak peduli dengan nasihat Pak Pohan. Kemudian Pak Pohan memberikan kantung plastik berisi pongpongan kepada Sani dan Polan. Mereka membeli seribu lima ratus rupiah untuk satu buah pongpongan.
       “Lan, sepedamu mana,kok langsung pulang?” tanya Sani. Polan dan Sani sering pulang bersama dengan mengendarai sepeda masing-masing. Lalu mereka berpisah ketika sampai di perempatan.
       “Sepedaku rantainya lepas. Rantainya memang sudah aus. Ayah belum sempat membelikan yang baru. Kata ayah karena sekolahku dekat makanya aku disuruh jalan kaki.”
       “Ayo, aku antar sampai ke rumahmu!” ajak Sani.
      “Makasih, San, nggak usah, rumahku dekat sedangkan rumahmu jauh.”
       “Kalau begitu, aku duluan!”
       “Yoi!”
       Walaupun rumah Polan dekat dengan sekolahan, sebetulnya ia capek jalan kaki. Maklumlah biasanya ia naik sepeda. Tapi ia kasihan kalau Sani mengantar.
       Sampai di rumah, seperti biasa Polan melihat ibu sibuk menjahit. Jahitan ibu akhir-akhir ini banyak. Langganan ibu para tetangga dan sebagian teman kantor ayah.
       “Lan, setelah makan siang, tolong belikan Ibu benang seperti warna kain ini. Juga kancing yang seperti ini. Ibu sudah beli tapi ternyata kurang dua buah. Sekalian reslueting ukuran tujuh belas setengah sentimeter,” pinta ibu dengan memperlihatkan kain perca dan contoh kancing.
       “Ibu, Polan kan baru saja pulang sekolah. Lelah. Sepeda Polan rusak. Masa Polan mesti jalan kaki lagi ke toko benang.”
       Walaupun Polan menolak, ibu bersikeras memintanya untuk membelikan. Terpaksa setelah makan siang, Polan pergi ke toko benang.
       Sampai di toko benang, Polan melihat banyak pembeli. Polan harus mengantre. Beruntung ia mengenal baik salah satu karyawannya. Karyawan itu biasa duduk di teras toko. Karena sibuk melayani, Polan meminjam kursi yang biasanya ia duduki. Kedua kakinya terasa sangat pegal.
       Sambil duduk, Polan jadi ingat kata-kata Pak Pohan, “Mereka kan makhluk hidup seperti kita. Coba kalau kita jalan tarus, kan lelah.”
       Polan berjanji sampai di rumah nanti tidak akan membanting Pongpongan yang baru saja dibelinya dari Pak Pohan. Ia akan memeliharanya dengan baik.
@@@

 Cernak ini pernah dimuat di www.simalaba.com, 10 Februari 2018 

Kamis, 08 Februari 2018

Cerpen



          “Iya, Pak, iya, saya tunggu di depan kantor,”suara Yuanita memberi konfirmasi pada taksi online yang sedang dipesan sembari mulai menahan dingin. Napasnya mendesah merasakan hujan yang sedang dalam musimnya dan tak memberi kesempatan jeda walau sesaat. Tragisnya, transportasi yang biasa mengantarnya kemana pun pergi malah masuk bengkel.
         Jejeran sesama orang berteduh di depan kantor yang sudah tutup bertambah satu-satu. Yuanita semakin merapatkan kedua tangan di dalamsweater-nya. Tidak ada alasan lagi melihat penanda waktu di pergelangan tangan layaknya pagi hari alasan tak mau keduluan si Bos. Sekalipun terlambat pun si Bos tidak mempermasalahkan. Dia tahu hanya sekali tempo dan oleh halangan. Yuanita memang sedang menginginkan kesendirian. Kesendirian untuk terus mengurai persoalan namun tak kunjung menemui jalan keluar.
@@@
       “Kamu harus bisa menjawab tantangan Ibu, Nit! Please, aku tidak ingin kita berpisah gara-gara kamu keberatan melakukan yang Ibu inginkan pada calon menantu perempuannya.”
       “Iya, iya, Wi, kamu kenapa snewen begitu. Aku kan juga butuh waktu untuk belajar. Nggak bisalah dengan serta merta melakukannya. Surve dulu,nyaribahan-bahannya yang mudah didapat, lalumempratikkannya. Baru kemudian berani melakukannya di depan Ibu.” Yuanita mulai menyebut ibu bukan lagi ibumu, itu pertanda sekian persen hidupnya sudah menjadi bagian keluarga Wibowo.Berharap lelaki itu juga merasakan sehingga tak terus menekannya.
        Aroma kopi mendadak hambar, Yuanita menyayangkan. Nyatanya Wibowo begitu gusar bahkan menyinggung tidak mau kehilangan dirinya. Alunan gending Jawa semakin menyayat-nyayat dalam resto berkonsep joglo.
       “Mas Irul?” suara dari balik jendela mobil yang datang membuyarkan lamunannya. Lelaki yang berada di antara jejeran itu pun segera menghampiri taksi online.
       Suasana kembali seperti semula begitutaksi berlalu.Gemuruh hujandengan sesekali diiringi petir masih menyelimuti. Hubungan Yuanita dengan Wibowodirundung rasa gelisah semenjak pernyataan ibu, kendati tak juga diwarnai pertengkaran.
       “Istrimu nanti harus bisa masak sayur gudeg. Itu tradisi dalam keluarga kita. Canggah, buyut, eyang,ibu, saudara-sadaramu, bahkan cucu, cicit, semua keturunan keluarga kita harus meneruskan tradisi,” kata ibu waktu itu.
       Yuanita yang tidak tahu menahu soal memasak tentu saja syok mendengarnya.Apalagi pada kemudian hari, mendengar sayur gudeg yang dimaksud ibu. Tidak sekadar sayur gudeg menurut ukuran orang umum. Yuanita baru sekali itu mendengar memasak sayur gudeg dengan campuran batok kelapa dan daun jati. Dia bergidik mendengar penuturan Wibowo. 
       Begitulah permintaan ibu, keharusan memasak sayur gudeg dengan istilah “meneruskan tradisi”. Terang saja setelah itu Wibowo kelimpungan, takut kehilangan dirinya.Dia benar-benar tidak menyangka ibu juga memberlakukan `meneruskan tradisi` kepada menantunya. Wibowo hanya sendiko dawuh, menerima begitu saja, tidak ada kamus dalam keluarganya membantah hal-hal yang sudah digariskan orangtua, bahkan oleh tradisi yang tidak lazim ukuran zaman sekarang, sekalipun.
        Yuanita wanita karir, sehari-hari hidupnya dihabiskan di meja kantor, makanan tinggal memesan katering, apalagi sekarang ada jasa online yang siap melayani makanan apa pun yang ia mau, tiba-tiba disuruh memasak.  
       Waktu itu perkenalan keluarga, Lebaran kemarin. Setelah acara perkenalan, ibu memanggil Wibowo ke dalam. Maharani, satu-satunya anggota keluarga yang ada waktu itu selain ibu, ke belakang mengambil minuman. Yuanitaleluasa mendengar semua pembicaraan Wibowo dengan ibunya. Meski dalam bahasa Jawa Kromo,dia tak bego-bego amat mengerti maksudnya.
       “Kalau tidak memintanya sekarang, Ibu tidak yakin dia mau melakukannya setelah menjadi istrimu kelak. Setinggi dan sesukses wanita berkarir harus bisa melayani suaminya, termasuk urusan dapur,” kata ibu.
@@@
       Semenjak itu, Yuanita rajin menghabiskan ritual paginya di dapur, tempat yang selama ini terlepas dari perhatiannya. Ia lebih senang menikmati secangkir kopi dan setangkup roti berisi meses atau selai di depan televisi.Kendati jarak antara ruang tengah dengan dapur hanya beberapa langkah dan tanpa sekat.
       Dilihatnya sudut demi sudut dapur, tidak ada perkakas dapur, kecualialat makan dan minum yang dibawanya dari rumah mamanya, juga beberapa alat memasak sederhana, lalu kulkas dan dispenser.Kompornya sudah lama menganggur semenjak jasa online juga menyediakan pemesanan makanan dengan mudah. Itu sebabnya ia akan meminta tolong temannya kelak jika sudah siap `meneruskan tradisi`. Seorang teman sekantornya kebetulan asli kota ini dan masih singgel. Temannya bersedia meminjamkan dapur beserta semua perlengkapan membuat sayur gudeg. Tinggal menunggu Yuanita siap.
       “Ma, tidak masak gudeg?” tanya Yuanita saat mudik, memancing mamanya walau dia tahu wanita yang melahirkannya itu tidak pernah memusingkan soal masakan. Memasak bagi mama bukan hal penting. Terbukti tanggapan mama berbeda.

       “Gudeg? Kamu kangen gudeg Pungkuran? Jelas saja, semenjak Lebaran baru sekarang kamu pulang. Biar nanti Mama suruh Suri membeli,” berondong mama. Pungkuran adalah nama tempat dan lebih terkenal ketimbang penjualnya.
        “Ah, enggak, Ma, cuma tanya aja.” Surut sudah rencananya. Jawaban mama melencengkan niat semula yang ingin bertanya bagaimana cara memasak sayur gudeg sekaligus mempraktikkan seperti yang diingini ibunya Wibowo.
       Jujur, semenjak ibunya Wibowo menyuruh agar membuat sayur gudeg, dia tidak begitu berselera lagi makan gudeg. Sulit dibayangkan batok kelapa dan daun jati yang biasanya berada di tong sampah harus dicampur dalam masakan. Terlepas alasan batok kelapa diletakkan di dasar panci agar gudeg tidak gosong dan daun jati digunakan sebagai pemberi warna cokelat. Kendati dia percaya kedua penghuni sampah itu pasti tejamin kehigienisannya setelah dicuti bersih, hingga detik ini Yuanita belum bisa menerima.
       Sekali waktu mama memang memasak sayur nangka muda, bahan yang sama untuk membuat gudeg, tapi cukup diberi santan banyak dan bumbu dengan pengolahan jauh lebih sederhana dibanding memasak gudeg yang diingini ibunya Wibowo. Itu pun mama merasa rumit maka jarang mengolahnya dibanding masakan tanpa santan seperti cap cay, sayur sup, sayur asam, masakan kesukaan keluarga.
@@@
             “Ibu benar-benar tidak fair. Masak Mbak Nita disuruh memasak gudeg. Zaman modern begini,” gerutu Maharani, adik bungsu Wibowo yang kuliah di Bandung. Waktu itu Yuanita baru datang, kemudian Wibowo diminta mengantar ibu ke rumah saudara.
            “Iya, kasihan Mbak Nita, wanita karir yang kehidupnya dari pagi hingga senja berada di kantor malah disuruh masak gudeg,” tambah Nadine, kakak Maharani yang sedang menyelesaikan skripsinya di Institut di Bogor. Yuanita yang duduk di antara mereka hanya senyum-senyum.
            “Kalian lebih baik tidak usah ikut bicara. Kalian belum merasakan berumah tangga,” tanggap Mbak Kartika, kakak nomor dua Wibowo.
            “Gudeg itu filosofi keluarga kita,” serang Mbak Sari, kakak sulung Wobowo yang juga sudah berumahtangga.
            “Masa gudeg sebagai filosofi, ini zaman now, Mbak, bukan old,” sanggah Maharani nyinyir. Yuanita tidak menyangka pembicaraan menjadi meruncing. Sementara dia hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa.
            “Filosofi bahwa rido Allah itu ridho orangtua.”
           “Tapi kan tidak harus masak gudeg, Mbak.”
          “Dik Rani, Dik Nadine, sudahlah, tidak apa, niat Ibu itu baik. Lagi pula sesibukapapun, setelah menjadi istri Mas Wibowo aku pasti juga masuk dapur. Jadi apa salahnya mulai memasak dari sekarang, diantaranya ya ... masak sayur gudeg itu,”Yuanita mencoba mencairkan suasana.
       “Tuh, dengar, Nita saja mau menyadari, kalian malah membangkang.”
       Kedua adik Wibowo memilih pergi. Yuanita cuma senyum-senyum. Lalu kedua kakaknya itu mengatakan kalau ibu harus dijaga perasaannya. Ibu sudah kehilangan separo keping hatinya, siapa lagi kalau bukan almarhum bapak. Tragisnya Wibowo tidak hanya satu-satunya anak lelaki,ia juga tinggal bersama ibu. Maka lengkaplah kesempurnaan yang harus Yuanita tunjukkan kepada keluarga itu, terutama di depan ibu.
      Terbayang dua lelaki yang pernah mampir dalam kehidupannya. Cinta pertamanya dengan Rivaldo kandas karena keduanya sama-sama tak mampu menjalin hubungan jarak jauh. Setelah tak menemukan jalan keluar akhirnya mereka berpisah. Kemudian Rivaldo mendapatkan pengganti teman satu kuliah yang sekarang menjadi istrinya. Mereka sekarang menjadi interpreneur muda di bidang kuliner. Sementara Yuanita jadian sama Irvan. Tapi sayang, cinta keduanya juga kandas karena planning ke depan tidak lagi cocok.Irvan yang ekonom kini juga hidup bahagia bersama istrinya.
       Yuanita merasa putusnya lantaran sesuatu prinsip, sangat menyangkut masa depan. Dan tidak pernah sedikit pun mempersoalkan masalah makanan. Mereka tinggal mendatangi restoran yang diingini. Sedikit pun tidak membahas sesuatu yang yang tidak perlu. Ah tidak perlu menurut siapa? Mungkin setiap orang punya filosofi dan budaya yang berbeda. Dan memasak, terlebih sayur gudeg, benar-benar di luar dugaan Yuanita.
@@@
       “Dengan Mbak Yuanita?” akhirnya nama Yuanita disebut dari balik kaca jendela mobil.
       “Iya, Mas,” tanpa berpikir panjang ia pun melangkah dan masuk dalam mobil.
       Mobil memutar balik.Yuanita duduk dalam diam. Kebiasaan menyetir mobil sendiri membuatnya tak pernah duduk di belakang. Tidak lama setelah mobil melaju dalam perlahan...
      “Sendirian saja, Nit?” Nita terkaget dalam penyapaan tidak biasa antara penumpang dengan driver.
       “Anda...” memaksa Yuanita untuk menoleh.
       “Tidak usah sok resmi. Bagaimana mungkin aku tidak mengenal Yuanita Larasati, nama yang terakses dalam panggilan orderan. Analisis Kredit sebuah bank yang pernah hadir dalam kehidupanku.”
       “Rivaldo?” sikap tak peduli dan lebih cenderung merendahkan membuat Yuanita tak pernah membaca nama driver setiap memesan ojek atau taksi online
       “Namaku belum berubah.”
       “Kamu...” tak tega Yuanita melanjutkan kalimatnya.
       “Tidak perlu sungkan. Harus menatap kenyataan, Nit. Inilah hidup yang harus kujalani...”
       Lalu meluncurlah cerita Rivaldo yang tidak disangka. Tingginya persaingan bisnis sementara ia dan istrinya tidak mampu mengikuti kemajuan teknologi, membuatnya mencari jalan lain untuk menghidupi anak dan istrinya. Sementara bisnis kuliner yang omsetnya tidak sebanyak dulu cukup istrinya yang mengelola. Irvan juga tak jauh beda dengannya. Lelaki yang pernah satu kelas itu juga memanfaatkan mobil pribadinya menjadi bagian taksi online di kotanya demi menambah pendapatan keluarga. Dia menunjukkan, sebuah tantangan harus dihadapi dengan penuh “keberanian”.
        Yuanita terpaku hingga kepulangannya di apartemen. Nyaris dia terlupa, tiada yang sempurna di dunia ini. Sesegera mungkin aku mulai mencoba memasak gudeg. Untuk kemudian menyajikannya di depan ibu. Yah, demi menjawab tantangan calon ibu mertua.
@@@
Cerpen ini perndah dimuat di tabloid NOVA edisi 5-11 Februari 2018